“Jika ada
Allah yang maha kuasa dan baik mengapa didunia ini ada kejahatan yang banal
? “Saya menolak pecaya kepada Allah yang
mampu tapi tidak mau mencegah datangnya kejahatan yang menimpa anak saya”,
Sahut seorang ibu penyintas kasus pemerkosaan yang menimpa anak gadisnya yang
berusia 9 tahun. “Jika ada Allah yang maha kuasa dan maha baik mengapa Dia
merenggut hidup saya yang sedang dalam proses pengabdian menjadi seorang imam dengan memberikan saya penyakit HIV?”
Pernyataan-pernyataan ini adalah pernyataan yang didengar oleh penulis selaku
pendeta jemaat lokal dalam beberapa sesi konseling pastoral yang alot.
Pernyataan-pernyataan gamblang ini terdengar provokatif namun disisi lain
terasa getir dan apa adanya.
Pergumulan
hidup dan penderitaan adalah sebuah palu yang menghantam
bukan saja emosi tapi juga cara berpikir
dan beriman. Dan penjelasan-penjelasan ontoteologis soal keberadaan Allah
dihadapan penderitaan menurut pengalaman penulis tidak banyak membantu. Phillip
Yancey didalam buku Where is God When it
Hurt? Berkata :
“I have mentioned that no one offers the name
of a philosopher when I ask the question, “Who helped you most?” Most often
they answer by describing a quiet, unassuming person. Someone who was there
whenever needed, who listened more than talked, who didn’t keep glancing down
at a watch, who hugged and touched, and cried. In short, someone who was
available, and came on the sufferer’s terms and not their own.” (Yancey , 1997, 4)
Yang
diperlukan bagi penyintas menurut Yancey adalah semacam pendampingan yang setia
disamping orang yang menderita. Tapi Yancey kemudian mengatakan bahwa diperlukan
penjelasan lain yang melampaui ontoteologi Heiddegerian dam Kantian untuk menjelaskan relasi antara Allah yang ada dengan realitas
kejahatan. Sebentuk penjelasan yang segar yang didasarkan atas perjumpaan
dengan Allah dalam perspektif yang baru perlu dilakukan (Yancey,1997,43) .
Dengan
Puitis Yancey menyampaikan kembali hal
itu dalam wawancaranya dengan majalah Christianity today yang dikutip dan
diterjemahkan oleh laman cahayapengharapan.org demikian :
“Saya
sudah belajar untuk melihat pada kontak yang lebih tersembunyi di antara dunia
yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Saya merasakan di dalam cinta romantis
sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan daya tarik biokimia. Saya merasakan
di dalam alam dan keindahannya tanda-tanda seorang pencipta yang genius yang
secara natural memancing respon dari saya. Saya merasakan di dalam keinginan,
termasuk berahi seksual, tanda-tanda yang kudus mendambakan kontak. Saya
merasakan di dalam belas kasih, kemurahan, keadilan dan pengampunan suatu
kualitas kasih karunia yang berbicara kepada saya tentang dunia yang lain,
terutamanya di tempat-tempat yang saya kunjungi, seperti Rusia, di mana semua
hal itu telah terhilang. Singkat kata, saya percaya bukan karena dunia yang
tidak kasat mata itu dengan lantang berbicara tapi karena dunia yang kasat mata
ini membisikkan akan suatu ketidak-lengkapan.”
Allah
diluar theodicy ?
Ketidaklengkapan, absennya kebaikan dan berbagai hal
yang meresahkan Yancey mengenai urgensi perjumpaan kembali dengan Allah diluar
ontoteologi dan theodicy tidak pernah benar-benar diartikulasikan
olehnya. Itu sebabnya menurut penulis, kita perlu menengok kepada
pemikiran Richard Kearney perjumpaan anateisme; perjumpaan kembali
dengan Allah, setelah nihilisme yang dibawa oleh masa sekularisme pencerahan
(Kearney2012,166). Anateisme tidak menawarkan proposal baru untuk Tuhan yang
baru, agama baru, atau dogmatika baru. Alih-alih anateisme adalah sebuah
proposal untuk menjumpai Allah kembali lewat cara-cara yang sudah ada dan menubuh didalam
kebudayaan, agama, dan masyarakat yang terabaikan dialam pendekatan berteologi
modern (Kearney ,2012,167).
Ditengah
kebangkitan fundamentalisme beragama dan
fundamentalisme ateisme dalam apa yang disebut Kearney sebagai Anti God Squad (Kearney, 2012, 168)
Anateisme hadir . Anti God Squad
tidak lain adalah gerakan ateisme baru yang diawaki oleh Richard
Dawkins, Dennet, Hitchens yang menurut Kearney membawa bias kultural kirbat
modernisme yang sudah usang kedalam kristik agama yang bernuansa tunnel vision itu (Kearney, 2012,169). Sedangkan
fundamentalisme beragama tentunya adalah sebuah pengerasan identitas dalam
agama-agama khususnya agama samawi secara khusus dalam semangat hostilitas dan
dan ekskulsivitas yang menempatkan yang berbeda sebagai ancaman pada komunitas
imannya (Kearney,2012,170).
Menurut
Kearney perjumpaan kembali dengan Allah
dalam anateisme menawarkan jalan ketiga didalam perdebatan teis dan ateisme.
Pendekatan ini bersama-sama dengan ateisme menyetujui bahwa Allah triumphalis yang dirumuskan oleh teologi
fundamentalisme adalah Allah yang boleh ada. Ajaran mengena Allah yang rasis,
seksis, dan yang digambarkan sewenang-wenang melemparkan hukuman dan bencana
kepada dunia tidak dapat lagi dipertahankan
(Kearney,2012,168). Dilain pihak pendekatan berteologi modern yang
melepaskan yang sakral dari metanarasi berteologi juga ditolak oleh anateisme.
Upaya-upaya merasionalisasikan pengalaman
relijius menjadi semata-mata sebuah fenomena psikologis dan kultural
adalah sebuah upaya mereduksi yang sakral kedalam ranah empiris adalah reduksi
kepada esensi agama itu sendiri (Kearney,2012,171). Fakta bahwa
agama-agama tidak mati , bahkan menguat
secara kuantitas penganutnya sampai
menjelang akhir hayat modernisme, menunjukan bahwa ada
sesuatu yang transenden yang membuat agama tetap bisa hadir. Permasalahannya
ekspresi dan penghayatan seperti apa yang mesti dilakukan dalam memeluk agama
dan memahami agama pasca modern, pasca nihilsme dan tragedi? Didalam
menjawab pertanyaan inilah anatheisme
hadir.
Anateisme
;Iman yang puitis
Ketika argumen theodicy hadir dengan formulasi ontologi untuk
menghadirkan evidensi keberadaan Allah secara metafisika di hadapan realitas kejahatan, dia membawa
Allah makin jauh dari imajinasi agama.
Lagi-lagi ini yang menurut Kearney semakin mengasingkan Allah dari kemanusiaan
( kearney, 2012, 172). Bagi Kearney bahasa kehadiran Allah yang
dihadirkan dalam wajah agama adalah Allah yang dijumpai dalam poetic faith (Kearney,2012,14). Poetic
Faith adalah sebuah formulasi iman yang yang menurut sastrawan Amerika
serikat, Oscar Wilde adalah “ Penyataan
keilahian yang menyatakan diri didalam penderitaan manusia melalui
inkarnasi Yesus Kristus kedalam penderitaan yang dinyatakan secara estetis
dalam bahasa nyeri yang tak terkatakan tanpa seni.”(Critchley,2008,14). Apa
yang hendak dikatakan Oscar Wilde bersama-sama dengan Kearney adalah bahwa agama secara mendasar adalah produk
imajinasi yang memiliki banyak dimensi kebahasaan yang puitis- metaforik
sehingga hanya bisa dipahami dalam kesadaran antropomorphisme. Kesadaran
antropomorphisme mengandaikan bahwa setiap unsur dalam narasi agama berakar
pada anasir dan artefak kebudayaan tertentu, dalam waktu dan wacana tertentu.
Sehingga diluar pemahaman partikularitas tersebut mustahil bahasa agama dapat
dipahami apalagi dihakimi dan diseragamkan dengan ontologi.
Dengan mengatakan bahwa iman kepada Allah
dalam agama adalah iman yang formulasi
utamanya adalah poetic faith dan
pendekatan kepada bahasa iman mesti lahir dari kesadaran partikularitas
antropomorphisme, tidaklah secara naif
menyamaratakan iman kepada Allah
dalam tradisi agama itu setara dengan narasi fiksi. Anateisme menurut Kearney
dikatakan bersifat poetic faith semata-mata karena alusi sastrawi memiliki
semangat yang sama dengan semangat penghayatan kepada Allah dalam agama yaitu
kesediaan untuk menerima sekaligus menegasi semua pernyataan dalam waktu yang
sama dengan kesediaan untuk berimajinasi dan reimanjinasi (Kearney,2012,15).
Dari kesadaran yang sama Karl Barth mengatakan :” Allah senantiasa ya
dan tidak pada waktu yang bersamaan. Dia adalah Bapa dan bukan Bapa pada waktu
yang sama, sebab fiksasi Allah pada satu
istilah adalah penyembahan berhala “(Thompson ,
208,2000).
Iman yang poetic adalah iman yang terintegrasi
didalam narasi metaforik. Metafora
melibatkan transportasi (metaphora)
antara diri dan yang lain didalam copula
is.isn’t (Ricoeur (Ricoeur, 1981,257f). Dengan tepat Kearney mengatakan
:
“ Orang asing dihadapanku adalah Allah (sebagai tamu
transenden) dan pada saat yang bersamaan bukan Allah melainkan layar
proyeksi diri dan preasumsi saya”(Kearney,2012,15). Anateisme memahami bahwa didalam tekanan
inilah iman bertumbuh dan dihayati. Iman
anateisme yang poetic itu berbeda
dengan dogmatis ateisme yang atau
dogmatis teisme . Poetic faith adalah sebuah gerakan untuk menolak
membicarakan secara absolut apa yang absolut;baik secara positif (cataphatic) maupun negatif (apophatic). Iman yang Poetic lahir dari kesadaran bahwa yang absolut itu
tidak dapat dibicarakan oleh satu orang atau satu tradisi agama secara absolut (Kearney,2012,16).
Anateisme
yang puitis sangat menyadari peran ateisme kritis sebagai bagian dari kekuatan
emansipatoris yang menjadi bagian yang integral dalam teisme yang kritis.
Kearney menyebut ateisme “second faith beyond faith”(Kearney,2012,16).
Apa yang ditentang oleh Anateisme yang puitis ini adalah segala bentuk
triumphalisme dan hegemoni keyakinan baik teisme maupun ateisme. Penderitaan
dan segala bentuk pergumulan hidup tidak dapat serta merta begitu saja dianggap
memfalsifikasi kepercayaan kepada Allah, sama seperti segala keteraturan dan
segala hal baik dalam kehidupan tidak begitu saja diterima sebagai semata-mata
berkat dan tanda kehadiran Allah. Poetic
Faith dalam anateisme adalah keterbukaan kepada segala kemungkinan yang
mendahului iman teisme dan ateisme karena keberimanan tidak pernah mengambil
satu pengalaman, kredo, titik tolak dan
menjadikannya formula untuk segalanya. Keberimanan seperti kata seorang
pujangga Austria abad ke-20 Rainer Maria Rilke adalah “sebuah fragmen dalam drama berisi keputusan-keputusan yang berangkat
dari ketidakpercayaan menuju kepada kepercayaan untuk beralih kemudian kepada
ketidakpercayaan atas apa yang sudah ajeg diyakini” (Rilke,1994,76).
Menjumpai
kembali Allah didalam keseharian penderitaan yang tak terhindarkan
Perjumpaan
yang momentumental dengan Allah memang menjadi semacam cara menghayati dan membangun
kembali iman dalam banyak narasi di teks alkitab didalam
pengalaman-pengalaman besar yang tidak biasa. Dari oracle dan berbagai perjumpaan monumental itulah Allah dijumpai .
Tapi bagaimana realitas perjumpaan dengan Allah ini dijumpai dihadapan keseharian,
rutinitas bahkan penderitaan yang tidak terhindarkan, membosankan, stagnan dan
menyakitkan? Dapatkah perjumpaan dengan Allah dihayati disana? Disinilah
Anateisme hadir, yaitu dalam perjumpaan dengan Allah pasca momentum dikala “berbagai hal yang itu-itu saja dan yang
menjengkelkan bahkan menakutkan dialami” (Kearney,2012,57).
Anateisme
bukanlah agama modernis yang merayakan sains sebagai cahaya baru spiritualitas
atau bukan pula sebentuk fundamentalisme baru yang ingin mengembalikan Allah
metafisik kedalam narasi sekuler ini. Anateisme adalah sebentuk pasca teisme
yang mengajak kita mengunjungi kembali yang sakral didalam keseharian yang
sekuler dan yang tidak monumental apalagi yang membuat kita merinding seperti ide
“Mysterium tremendum et fascinans"
Rudolf Otto (Otto,1958,34).
Dalam konteks Indonesia yang penuh dengan
pertumpahan darah dan catatan kelam sejarah pelanggaran hak asasi manusia ini
penulis membayangkan bahwa pengalaman anateisme adalah pengalaman perjumpaan
dengan Allah pasca pulau Buru, pasca Plantungan, dan pasca penjara Bukit Duri
yang dialami para penyintas seperti Lestari .
Lestari
yang beragama kristen protestan itu pernah berseru didalam doa yang khusuk saat
menerima siksaan dan deraan sepatu boot tentara agar diringankan rasa nyerinya
oleh Allah. Namun itu itu tidak pernah terjadi. Doa Lestari tidak menghentikan
pukulan, pelecehan seksual bahkan pemerkosaan yang diterimanya selama hampir 8
tahun dari total 11 tahun penahanannya
yang tanpa melalui proses pengadilan itu. Penulis pernah bertanya kepada eyang Lestari ,
bagaimana dia bisa melalui masa-masa sulit itu dan tetap beriman kepada Allah
sekalipun Allah tidak menolongnya. Eyang
Lestari berkata kepada penulis :” Allah tidak perlu membela saya, saya harus
memastikan Allah tidak mati dihati saya agar saya tetap bisa menjalani
pergumulan ini”.
Jawaban
Eyang Lestari yang getir dan cukup mengganggu penulis mengingatkan penulis
kepada iman Anateisme ala Dietrich Boenhoeffer yang menghayati
Allah yang pasca mahakuasa (post omnipotence) itu :
“The God who let us live in
the world without the working hypothesis of God is the God before whom we stand continually. Before God
and with God we live without God.God is weak and powerless in the world and
that is precisely the way, the only way, in which he is with us and helps us.
Matt 8:17 makes it quite clear that Christ helps us, not by the virtue of his
omnipotence, but by virtue of his weakness and suffering “ (Bonhoeffer ,1997,87)
Anateisme
tidak hadir untuk berapologetika soal kehadiran Allah karena kemampuan-Nya
untuk menghindarkan yang getir dari kemanusiaan dan dari pengalaman hidup. Alih-alih
anateisme hadir untuk memberi perspektif baru dalam menjumpai Allah yang tidak
bangkit menolong kita keluar dari kegelapan dan kegetiran hidup secara instan
dan menyangkali pengalaman penderitaan yang nyata dalam hidup, melainkan
memandang penderitaan sebagai bagian dari
orkes polifonik kehidupan dimana didalam berbagai suara-suara sumbang
kehidupan Allah justru dijumpai didalamnya ((Kearney,2012,69) . Didalam Absennya
dan heningnya Allah dalam realitas penderitaannya di penjara wanita di Malang-
Jawa Timur, Eyang Lestari justru menjumpai Allah dalam tradisi protestannya.
Sekali lagi alusi ini mengarahkan kita pada
pernyataan anateisme dihadapan penderitaan yang pernah dikatakan Paul Ricoeur :
“God is dead is nothing to do
with the word ‘God is not exist’ .Its is even the total opposite. This means to
say : The God of religion, of metaphysics and of subjectivity is dead; the
place is vacant for the preaching of the cross and for the God of Jesus Christ”
( Ricoeur ,1994,250)
Dihadapan
Allah metafisika yang mati inilah Allah yang lemah lahir. Allah yang lemah didalam Yesus
Kristus hadir dipusat kehidupan , justru
karena kesadaran akan adanya kerapuhan kehidupan sehingga tiap saat dan
rutinitas kehidupan menjadi bermakna dan berarti (Ricoeur,1994,250). Allah yang
menderita yang hadir didalam inkarnasi diri Yesus Kristus menunjukan bahwa yang
rapuh, yang membosankan dan rutin itulah Allah menyatakan undangannya kepada
kita yang menderita hari ini bahwa Allah mengafirmasi afirmasi kita kepada
realitas penderitaan (Kearney,2012,69).
Beriman kepada Allah anateisme menuntun kita untuk menolak sikap
nihilistik kaum modern kepada penderitaan, atau sikap mengagungkan penderitaan
dengan semangat masochisme seperti kaum mistik. Iman anateisme mengafirmasi keluhan dan perasaan sakit bersalin besama dengan
segala mahluk didunia ini didalam kesadaran bahwa didalam keluhan inilah
perjumpaan dengan Allah dialami.
Sebuah
usulan untuk perjumpaan kembali dengan Allah:spiritualitas sehari-hari
Charles
Sabatino
dan Barbara Taylor memberi kita sebuah
pendaratan bagi penghayatan kepada Allah
anateisme dalam spiritualitas sehari-hari. Keseharian dan rutinitas
adalah cara berjumpa dengan Allah.
Keseharian dan rutinitas adalah sebuah sakramen dalam kerangka anateisme (Sabatino, Volume 25 / Issue 01 / Spring 1998).
Sakramen yang dalam teologi kristen dipahami sebagai “ tanda eksternal dari anugerah
spiritual dan bersifat internal” ternyata bukan hanya ada didalam ritual
gerejawi saja (Taylor, July-September 2003).
Taylor dengan lugas berkata :
God's activity is not limited
to two, seven or even seventy-times-seven such rites. Instead, I learned, the
sacraments I practiced in church were patterns of "countless ways"
that God uses material things to reach out to human beings in the world.
Countless ways? Based on this surprising revelation, I set out on a search for
everyday sacraments and it was not long before I found them everywhere. The same pattern of rebirth that I learned in
baptism showed up in everything from bathing to watering plants. The same
pattern of relationship that I learned in communion was available in every meal
eaten mindfully. The laying-on of hands took place as I held a crying baby or
rubbed the shoulders of a tired friend. With a little oil, I could even offer
the sacrament of a pretty good massage. When I walked outside and looked at the
smoking compost heap, I saw a sacrament of death turning into life. When I used
my little bottle of white-out to correct a mistake, I remembered that my errors
did not have to be permanent. Everywhere
I turned, the most insignificant things in the world were preaching little
sermons to me. Everywhere I turned, the world was leaking light.” (Taylor, July-September 2003).
Kesadaran
sakramental inilah yang menafaskan perjumpaan dengan Allah yang hidup didalam
anateisme. Makan, minum, berjalan, bertemu muka dengan tetangga, menyapa, dan
berbagai rutinitas lainnya adalah tanda bahwa kita adalah mahluk yang perlu
berelasi dengan dunia diluar diri kita untuk mengada. Pengalaman mengada ini
dihadirkan dalam keterbukaan kita akan dunia baik biologis,politis,seksual,
maupun sosiologis. Keterbukaan ini dalam kerangka penghayatan anateisme adalah
cara Allah sang pemilik dan sumber kehidupan itu dijumpai (Kearney,2012,152).
Yang sakral itu dijumpai didalam dunia
meskipun pada saat yang sama Dia yang kudus itu bukan dari dunia. Hal ini meneguhkan apa yang sebelumnya oleh Edward Schillebeeckx , seorang teolog katolik
abad 20 dari Belgia bahwa “tidak ada keselamatan diluar dunia( Extra mundum nulla salus)”
(Schillebeeckx,1960,321). Schillebeeckx
menandaskan bahwa : “the creative and
saving presence of God's grace" becomes manifest "wherever human
persons minister to one another, especially to the neighbor in need. Human love
is an embodiment, a sacrament, of God's love." He called these experiences
"fragments of salvation"(Schillebeeckx,1987,188).
Pengalaman
berjumpa kembali dengan Allah dalam Anateisme adalah sebuah sikap menubuh dan
melebur dalam berbagai pengalaman keseharian hidup yang jauh dari peristiwa monumental kepada
Allah maka hal tersebut memiliki nilai sakramental.
Penutup
Percakapan
mengenai Allah dan masalah kejahatan menjadi issue yang menghangat diawal
milenium ketiga ini ketiga identitas keagamaan semakin menguat seiring dengan
tragedi 9/11 diawal abad 21 ini.
Penjelasan ontoteologis dan metafisik dalam theodicy
sudah tidak memadai dimasa post struturalis
ini untuk menjelaskan masalah kejahatan.
Anateisme hadir untuk menawarkan detour
hermenetika ditengah ketegangan kebangkitan fundamentalisme beragama dan
kebangkitan ateisme baru yang semakin mengental belakangan ini.
Allah
Anateisme adalah Allah yang dijumpai didalam penderitaan.
Allah anateisme bukanlah Allah utopia dan metafisik yang
menawarkan pembebasan penderitaan dengan memberi janji eskatologis
kedalam dunia lain ditempat imajiner bernama surga.
Allah yang
didipahami dalam anateisme adalah Allah yang dijumpai didalam penderitaan
ditengah dunia ini . Allah yang memberi
kekuatan melawan dan bangkit melawan tirani yang merusak dunia milik Allah
sendiri dan berkabung bersama Allah didalam keluhan-keluhan yang tak
terucapkan. Dalam konteks menjalani
hidup di Indonesia yang dipenuhi oleh sejarah kekerasan, genosida dan berbagai
macam pelanggaran Hak Asasi Manusia perspektif Anateisme menawarkan
wacana baru untuk berteologi secara
konstruktif dan secara pastoral
ditengah Indonesia yang sedang bergumul dan menyelesaikan berbagai konflik horizontal dan vertikal dimasa lalu,
pengerasan identitas suku dan keagamaan. Penulis meyakini bahwa wacana ini
perlu dikaji secara kritis dan mendalam dalam untuk digumuli lebih lanjut dalam
perziarahan beriman dan berteologi di Indonesia.
Daftar
pustaka
Bonhoeffer, Dietrich. Letter and Paper from Prison.
Touchstone, 1997.
cahayapengharapan.
2014. http://www.cahayapengharapan.org/artikel/texts/iman_dan_keraguan.htm
diakses .
Critchley, Simon. The Book of Dead Philosopher. Granta
Books, 2008.
etymonline. 2014.
http://www.etymonline.com/index.php?search=anthropomorphism&searchmode=none.
Kearney, Richard. Anatheism. Columbia University
Press, 2012.
Otto, Rudolf. The Idea Of The Holy. Oxford University
Press; 2 edition , 1958.
palingaktual.com.
December 29, 2014.
http://palingaktual.com/1311972/eyang-lestari-bekas-tapol-1965-berpulang/read/
(accessed December 29, 2014).
Ricoeur, Paul. In the Conflict of Interpretations
(Socialanalytik). Aarhus University Press, 1994.
—. The Rule of Metaphore. University of Toronto Press
, 1981.
Rilke, Rainer Maria. Rilke on Love and Other Difficulties.
W. W. Norton & Company , 1994.
Sabatino, Charles. "Experiencing The Everyday World as
Grace." Horizons , Volume 25 / Issue 01 / Spring 1998: 84-94.
Schillebeeckx, Edward. Christ the Sacrament of Encounter
with God. Sheed & Ward, 1987.
Taylor, Barbara Brown. "Everyday Sacrament." Living
Pulpit, July-September 2003: 13-15.
Thompson, Geoff. Karl Barth: A Future for Postmodern
Theology? Australian Theological Forum, 2000.
Yancey, Phillip. Where is God when it's Hurt.
Zondervan, 1997.