Kamis, 25 Juni 2015

kembali pada yang biasa.

Begitu banyak yang harus dikerjakan, Tuntunan didalam pelayanan gereja, organisasi, dan rumah tangga,olahraga ,berlibur dan sekelumit hal-hal yang sebetulnya remeh tapi tidak serta merta menjadi temeh.
Beginilah cara hidup menyeret kita kepusaran. Semua hal seolah berteriak "aku penting" dan karenanya menuntut kita meluangkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk berurusan dengannya.

Beberapa tahun lalu diawal mengawali karir sebagai pendeta, saya berpikir bahwa pelayanan yang baik adalah pelayanan yangsibuk sepanjang jam dan hari kerja. Jadi saya terus membuat diri saya lebih sibuk, lebih terokupasi dengan konseling, kunjungan, membaca banyak buku yang relevan maupun yang tidak terlalu relevan dengan kehidupan saya. Dengan asumsi" suatu saat mungkin saya membutuhkan pengetahuan soal hal ini".

 Ditengah-tengah segala hiruk piku itulah saya mulai tergelayuti oleh keletihan yang datang bagaikan seorang pengawas pabrik ditengah saat-saat santai. Sungguh menurut saya "tidak pantas saya merasa letih,karena saya belum berbuat banyak" begitu ujar superegoku.
Tapi dorongan superego mesti mengalah pada id yang adalah representasi dari realitas kehidupan saya.
Setelah 5 tahun terlibat dalam dunia pelayanan pastoral yang konon kata Billy Graham " berpotensi merusak kesehatan fisik dan mental " saya merasa inilah saatnya saya memiliki ruang pengendapan pemikiran, ide, keresahan dan pertanyaan.  Saya belajar bahwa mengikuti mimpi dan hasrat sering membawa saya ketempat yang menyusahkan dan jauh dari kepuasan. Saya putuskan : saya  mau mulai mengikuti pertanyaan dan keresahan saya alih-alih mimpi saya yang mungkin saja sudah dibajak mimpi kolektif  kelas menengah ngehe Jakarta.

Mudah-mudahan blog ini jadi langkah kuratif dan pembaharuan roh saya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar