Selasa, 25 Agustus 2015

menghadapi "kok bisa begitu?!"

Ada yang menarik dari percakapan yang tak sengaja saya dengar dari pembicaraan tadi pagi disebuah kedai kopi swalayan berwaralaba dari Jepang . Percakapan itu adalah percakapan dua arah di telepon. Saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan si lawan bicara perempuan muda yuppies pertengahan usia 20-an itu dengan lawan bicaranya, tapi saya mendapati kesan bahwa sang perempuan berkata "aku gak sangka kamu kok begitu", kamu kok bisa serumit itu,aku  gagal paham..!" Sambil mematikan rokok kretek berfilter- perempuan muda ini masuk kedalam ruangan swalayan berpendingin udara itu.

Dari intensitas kata dan diksi yang lugas khas kelas menengah Jakarta, saya asumsikan ini adalah percakapan antara sahabat karib. Potongan percakapan itu seolah menjadi pengingat bagi saya bahwa pengalaman menghadapi kebingungan dan kerumitan juga adalah sesuatu yang pernah saya alami dalam relasi-relasi saya dengan orang-orang terdekat. Karib,  pasangan ,kenalan dan sahabat yang kita pikir sudah  begitu dekat kita kenal, dapat menunjukan anomali ;ifat-sifat yang mengejutkan kita.   Yang biasanya begitu bertanggung jawab, tiba-tiba menimbulkan sikap impulsif . Yang lazimnya tampil penuh kalkulasi tiba-tiba melakukan hal yang fatal. Yang beriman tiba-tiba menjadi skeptis. Yang biasanya penuh penguasaan diri tiba-tiba menampilkan dirinya sebagai pemberang.

Manusia  adalah mamalia dengan refleks reptil jikalau berhadapan dengan anomali kata para pakar sosiologi evolusioner. Respons kita terhadap yang asing dan berbeda menggoda kita untuk mengeluarkan respons binari: tempur atau kabur. Dalam urusan relasi dengan orang-orang terdekat yang menunjukan anomali hal ini rupanya berlaku.  Kita marah, kita melawan, bahkan menghindari orang-orang dan kerabat yang menunjukan sisi yang bisa mengiritasi kita. Kita kecewa dan meninggalkan mereka, karena merasa mereka sudah berubah. mengutip  judul lagu Dewi Yull yang pernah diparodikan Padhyangan Project yang sering saya dengan beberapa tahun lalu di warung indomie :"kau bukan dirimu lagi". Kau bukan dirimu yang dulu saya pernah kenal. Itu sebabnya kini kau adalah orang asing, dan saya perlu kabur atau bertempur melawanmu.
 Tapi apakah hanya itu saja respons terbaik kita menghadapi keunikan karakter dan kejutan-kejutan dari sikap anomali sahabat kita?

Saya rasa kita perlu mempertimbangkan apa yang dikatakan Julia Kristeva, seorang filsuf dan psikoanalis  Bulgaria .  Dalam bukunya  strangers to ourself ,Kristeva mengingatkan bahwa perjumpaan dengan yang asing dalam wajah sesama kita adalah tanda bahwa sesama kita adalah sebuah misteri yang tidak bisa kita ikat dalam semata-mata kategori sosial politik semata.  Si Polan bukanlah semata-mata orang batak dan kristen saja. Tapi dia juga adalah penggemar indomie goreng( Anda tak pernah tahu bagaimana kegemaran pada makanan ini membentuk ide-ide tentang ketidamungkinan kata Arman Dani hehe).  Ada yang subtil dari apa yang tidak terkategorikan.

 Kristeva menambahkan  bahwa " ketakutan dan keterkejutan kita terhadap hal asing yang ditunjukan sesama kita adalah karena kita mengesensialkan, atau memasukan sesama kita dalam kategori-kategori imajiner. Kita melihat sesama kita sebagai objek abstrak, bukan sebagai manusia yang multi narasi dan kompleks. 
maka itu mungkinkah godaan lain dari persahabatan kata seorang teman adalah "keakraban yang menghegemoni". Apa maksudnya? Maksudnya adalah karena kita merasa sudah akrab dan karib, kita lantas berasumsi kita sudah mengenalnya luar dalam. Kita merasa kita sudah dapat menakar kawan kita dalam rumusan dan kategori-kategori pertimbangan kita. Dan yang mengejutkan menurut Kristeva, hal ini lahir dari kecenderungan kita untuk menolak sisi asing dalam diri kita. Kita terobsesi dengan integritas. Keutuhan subjek. Padahal manusia sebagai subjek tidaklah pernah menjadi sesuatu yang dua dimensi. Sang diri dengan segala luka, patah hati, kesepian, kecewa dan kebetean nya adalah diri yang berlapis-lapis dan beragam. Singkatnya : Ada yang asing didalam diri kita yang kita pun akan terkejut kalau menjumpainya. Kebingungan yang menggema dalam diri setiap orang, termasuk saint Paul sejak curcol (curhat colongan)nya di magnus opus teologinya "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat  , tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.  -Roma 7 :15.

Itu sebabnya mungkin langkah sebelum kita menangani keterkejutankita menghadapi anomali yang ditampilkan dalam wajah pasangan, kawan karib atau sahabat, kita perlu berurusan dan berdamai dengan beragam keanehan dan keunikan serta keretakan kita. Sang diri yang tidak pernah utuh selalu terfragmentasi ini adalah pergumulan kita. Saya rasa ini cikal bakal pengharapan kita . Mungkin,,

 Saat menulis ini saya dikejutan oleh ledakan tawa. Ooh perempuan  yuppies itu sekarang kok ketawa-ketawa lagi, sambil menyalakan batang kesekian dari rokok kreteknya..tapi kali ini dia ditemani dengan secangkir teh di gelas karton.. Ah jangan-jangan saya sedang menghegemoni dan mengesensialisasi pengalaman dia lewat fenomena dangkal semata..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar